Antropolinguistik adalah cabang ilmu yang mempelajari variasi dan penggunaan bahasa dalam hubungannya dengan perkembangan waktu, perbedaan tempat komunikasi, system kekerabatan, pengaruh kebiasaan etnik, kepercayaan, etika bahasa, adat istiadat, dan pola-pola kebudayaan lain dari suatu suku bangsa. Antropolinguistik menitik beratkan pada hubungan antara bahasa dan kebudayaan di dalam suatu masyarakat (Sibarani, 2004:50).
Di Amerika, ilmu tersebut dikenal dengan nama linguistik antropologi “anthropological linguistics”. Istilah itu dikemukakan oleh Duranti (1997); dan Foley (1997).
Antropolinguistik atau linguistik antropologi memiliki beberapa padanan, yaitu etnolinguistik/linguistik etnologi dan linguistik kebudayaan. Linguistik antropologi yang merupakan cabang linguistik dan menaruh perhatian pada: (1) pemakaian bahasa dalam konteks sosial dan budaya yang luas, dan (2) pada peran bahasa dalam mengembangkan dan mempertahankan aktivitas budaya serta struktur sosial. Dalam hal ini, linguistik antropologi memandang bahasa melalui konsep antropologi yang hakiki dan melalui budaya, serta menemukan makna di balik penggunaannya, menemukan bentuk-bentuk bahasa, register, dan gaya (Foley, 1997:3); (Pastika, 2002:90). Dalam kaitan bahasa dengan antropologi, bahasa merupakan bagian dari kebudayaan (Halliday, 1977 dalam Sutjaja, 1990:59).
Istilah linguistik kebudayaan di Indonesia, pada mulanya diajukan oleh Sutan Takdir Alisjahbana (1977). Suharno (1982) menggunakan istilah linguistik kultural. Dalam rangka pengembangan kajian interdisipliner antara linguistik dan kebudayaan, Bagus (1995) menamakannya ”linguistik kebudayaan” (Mbete dalam Bawa dan Cika (Ed), 2004: 18).
Palmer (1996:36) menggunakan istilah linguistik budaya. Linguistik budaya adalah sebuah disiplin ilmu yang muncul sebagai persoalan dari ilmu antropologi yang merupakan perpaduan dari ilmu bahasa dan budaya. Linguistik budaya secara mendasar tidak hanya berhubungan dengan kenyataan objektif, namun juga mengenai bagaimana orang/masyarakat itu berbicara, mengenai dunia yang mereka gambarkan sendiri. Linguistik budaya berhubungan dengan makna/arti yang bersifat interpretatif (penafsiran), atas keseluruhan konteks (linguistik, sosial, dan budaya).
Menurut Riana (2003:8), linguistik kebudayaan adalah sebuah studi yang meneliti hubungan intrinsik antara bahasa dan budaya, bahasa dipandang sebagai fenomena budaya yang kajiannya berupa “language in cultural” atau “language and cultural”. Mbete (2004:25) mengatakan bahwa : “secara ontologis, linguistik kebudayaan menjadikan bentuk, fungsi, dan makna pemakaian bahasa sebagai objek materi kajiannya”. (dikopi dari I Gde Wayan Soken Bandana, M.Hum.KAJIAN ANTROPOLINGUISTIK)